Selamat Datang di Situs Ilmu Perbankan

Apabila anda ingin membagikan ilmu pengetahuan perbankan secara gratis dalam bentuk tulisan dan buku online, dipersilahkan mengisi form pada kolom "Pendaftaran Penulis Ilmuperbankan" untuk dapat mengirimkan tulisan mengenai seputar ilmu perbankan via email dan tentunya akan kami review dahulu tulisan anda untuk kemudian akan kami terbitkan dalam situs ini, ataupun bagi sahabat yang mau kami bagikan buku gratis secara online melalui email dapat mendaftarkan diri dengan cara mengisi nama lengkap dan alamat email anda pada kolom "Gratis Buku Online", dan secara teratur akan kami kirimkan buku online secara gratis kepada para sahabat semua yang telah mendaftarkan nama dan alamatnya, terimakasih

Google Search

Minggu, 14 Maret 2010

Pelayanan cemerlang pada Bank Bukopin Capem Depok Unit Kantor Kas Lenteng Agung , Jakarta

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada para nasabah sehingga dapat memberikan kepuasan bagi para nasabah, Objek penelitian adalah pada PT. Bank Bukopin Capem Depok Unit Kantor Kas Lenteng Agung yang bergerak dibidang Jasa Keuangan Perbankan, berlokasi di jalan Lenteng Agung Jakarta Selatan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, pengamatan-observasi.

Dalam era globalisasi ini terjadi persaingan bisnis didunia yang semakin tajam. Tidak terkecuali diindonesia, hal ini disebabkan oleh banyaknya pengusaha yang bergerak dalam bidang usaha yang sama. Untuk itu tiap perusahaan harus lebih aktif dan lebih cekatan dalam melihat pangsa pasar dengan berbagai cara, salah satu cara dalam dunia perbankan untuk merebut pangsa pasar adalah melalui jenis pelayanan yang baik. Karena itu jika kita pelajari lebih dalam sebaik apapun suatu produk yang dihasilkan dalam sebuah bisnis hal yang paling utama dari semuanya adalah pelayanannya. Contohnya produk telpon seluler yang ada dipasaran sekarang muncul dengan berbagai macam merk, akan tetapi banyak konsumen telpon seluler yang cenderung memilih produk telpon seluler dengan merk Nokia dibandingkan dengan merk yang lainnya, hal ini disebabkan karena adanya kemudahan dari fasilitas penggunaannya, harga yang kompetitif, garansi yang diberikan, dan banyaknya outlet service untuk memperbaiki telpon seluler nokia ini jika terjadi kerusakan.

Demikian pula halnya dengan bisnis didunia perbankan, pelayanan merupakan inti yang paling penting pada masa sekarang ini, hal ini disebabkan karena pergeseran dari product oriented ke customers oriented, oleh karena itu pengusaha harus memperhatikan keseimbangan kepuasan konsumen dengan produk yang dihasilkan. Produk yang dihasilkan Bank Bukopin adalah tabungan yang terdiri dari Siaga, Siaga Haji, Siaga Dollar dan Sikosi, deposito yang terdiri dari Investa, Merdeka, dan Dollar, Giro yang terdiri dari Transa dan Smarta, untuk dapat memikat hati masyarakat / calon nasabah produk maka Bank Bukopin memberikan fasilitas yang anatara lain tariff bunga yang dihitung secara harian, mendapatkan asuransi, menawarkan hadiah yang menarik dari acara-acara yang diselenggarakan sesuai dengan promosi, serta banyak fasilitas lainnya yang menguntungkan bagi para nasabahnya. Hal ini merupakan upaya untuk menarik minat nasabah untuk menjadi pelanggan setia dan memiliki loyalitas yang tinggi pada Bank Bukopin. Tetapi bagaimanapun bisnis dibidang jasa perbankan bukan hanya terfokus pada tingkat suku bunga yang ditawarkan ataupun keunggulan produknya, melainkan sudah begeser kearah aspek yang bersifat personal, salah satu aspek tersebut adalah kualitas pelayanan yang mampu diberikan sebuah Bank kepada para nasabahnya, kualitas pelayanan merupakan salah satu kunci yang penting bagi proses penciptaan loyalitas nasabah, bebagai riset telah membuktikan bahwa loyalitas nasabah akan berdampak pada bottom line perusahaan dan akan membangun customers based yang lebih baik untuk perkembangan masa depan perusahaan.

Untuk itu hubungan pelayanan dengan nasabah tidak dapat dipisahkan satu sama lain, oleh karena itu kita harus menjaga citra dan kredibilitas perusahaan kita agar tidak mengecewakan nasabah, sehingga tidak mengakibatkan nasabah beralih ketempat lain, jadi berikanlah pelayanan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik, karena dunia bisnis perbankan tidak hanya berorientasi pada masa sekarang saja tetapi harus berorientasi pada masa yang akan datang, dan nasabah merupakan asset Bank yang tidak ternilai.

Baca Selengkapnya..

Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Koperasi

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya maka dapat dikemukakan kesimpulan antara lain :

1. Potensi pendapatan asli Nagari Bayur cukup banyak diantaranya adalah dari pemamfaatan Danau Maninjau. Seperti tempat berkeramba bagi petani ikan, retribusi dari keberadaan bangunan Home Stay, pajak permukaan air danau yang digunakan PLTA Maninjau, namun belum dikelola dan dikembangkan dengan baik.

2. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Nagari Bayur untuk meningkatkan pendapatan asli nagari adalah dengan membuat Peraturan Nagari Bayur No. I Tahun 2003 tentang Pungutan Retribusi Nagari, namun peraturan nagari yang telah ditetapkan ini tidak dapat berjalan dengan baik, karena tidak adanya kerjasama yang baik diantara lembaga-lembaga yang ada di nagari sehingga sulit untuk mensosialisasikan kepada masyarakat. Disamping itu Badan Perwakilan Rakyat Nagari juga telah melakukan pendataan terhadap aset nagari dalam hal ini. Namun pendataan terhadap sawah nagari tidak dapat meningkatkan pendapatan asli nagari karena pendataan yang dilakukan oleh BPRN tersebut tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah nagari.


3. Adapun kendala yang ditemui dalam meningkat pendapatan asli nagari adalah:
a. Ketidak mampuan wali nagari sebagai pemimpin nagari dalm memberdayakan sumber yang sudah ada.
b. Kurangnya inisiatif dari pemerintahan nagari
c. Ketidak mampuan aparatur pemerintah nagari menyampaikan aspirasi bersama ke tingkat kabupaten
d. Sulitnya memungut pajak karena belum adanya peraturan nagari yang dibuat.
e. Keterbatasan tenaga atau kurangnya personil pemerintah nagari untuk melaksanakan pemungutan nagari yang mampu bekerja secara profesional
f. Mulai lunturnya semangat bernagari dalam kehidupan masyarakat.
g. Kurang kondusifnya hubungan lembaga-lembaga yang ada di nagari.
h. Pengelola pasar tidak percaya dengan pemerintah nagari.

Saran

Berdasarkan keadaan yang diamati di lapangan mengenai potensi dan kendala pendapatan asli nagari di Nagari Bayur maka dapat di sarankan hal-hal sebagai berikut :

1. Pemerintahan nagari hendaknya membuat peraturan yang jelas tentang potensi-potensi yang dapat meingkatkan pendapatan asli nagari, dan untuk perekrutan perangkat pemerintahan nagari hendaknya diutamakan kualitas sumber daya manusia.

2. Badan Perwakilan Rakyat Nagari sebaiknya dapat melakukan tugas dan kewajibannya dengan baik, agar pemerintahan nagari dapat berjalan dengan optimal.

3. Pemerintah nagari, kelembagaan nagari, dan masyarakat sebaiknya menciptakan kondisi yang dinamis dan saling bekerjasama untuk meningkatkan pendapatan asli nagari.


Baca Selengkapnya..

Pasang Iklan Murah Disini

Anda dapat memasang iklan dengan harga yang sangat murah disini (hanya Rp 10.000 pertahun), iklan murah ini dapat diwujudkan apabila para sahabat menjadi anggota dalam situs ilmu perbankan ini, karna kami hanya akan memberikan ilmu perbankan dan semua hal mengenai dunia perbankan kepada para sahabat kami semua yang tertarik dan berminat terhadap perkembangan dunia perbankan di Indonesia, dan situs ini ditujukan hanya bagi para praktisi perbankan, akademisi serta semua sahabat yang tertarik dan ingin tahu lebih mendalam mengenai dunia perbankan di tanah air.

Harga promosi ini hanya berlaku pada saat bulan promosi dan momentum tertentu saja, dan tidak berlaku apabila tempat iklan sudah penuh dan terjadi booking oleh para sahabat yang lain namun iklannya masih dalam tahap persiapan pemasangan, karna itu kami mohon maaf apabila hal itu yang terjadi pada para sahabat yang terlambat dalam menghubungi kami, namun kami akan memberikan kabar kepada para sahabat yang terlambat menghubungi kami, baik melalui email ataupun cara yang efektif lainnya agar para sahabat tidak terlalu kecewa kepada kami.







Baca Selengkapnya..

PENGARUH BUDAYA KAIZEN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat dibuat kesimpilan sebagai berikut :

1. Variabel-variabel Budaya kaizen yang terdiri dari Pendidikan dan latihan (X1), Hubungan Kerja (X2), Tempat Kerja, (X3)Penyelia (X4) dan kedisiplinan kerja (X5) secara simultan atau bersama-sama mempunyai pengaruh bermakna terhadap kinerja (Y) karyawan pada koperasi “SAE” Pujon pada taraf nyata α = 0.05. sehingga menolak Ho dan menerima Ha
Hal ini juga membuktikan bahwa budaya kaizen dapat dikatakan berkembang secara baik di Koperasi “SAE” Pujon dan membuktikan bahwa pada obyek penelitian terdapat perbaikan proses secara terus menerus dan berkelanjutan

2. Dari hasil uji t dapat diketahui bahwa nilai thitung untuk variabel Penyelia (X4) sebesar 6.676 dengan taraf signifikan 0.003 dapat dikatakan memiliki nilai t hitung tertinggi dengan taraf signifikan terkecil, sehingga hipotesis ketiga dapat dibuktikan pada taraf nyata α = 0.05

3. Dari uji t juga dapat diketahui bahwa variabel penyelia mempunyai pengaruh dominan karena mempunyai t hitung yang paling besar dengan tingkat signifikan terendah
Dalam hal ini kepala bagian personalia Koperasi “SAE” Pujon mengatakan bahwa unit atau departemen dengan jumlah karyawan terbesar adalah bagian produksi karena sebagian besar dari karyawan tersebut berpendidikan tidak terlalu tinggi maka peran dari penyelia sangat dibutuhkan

4. Dari analisis diperoleh nilai R adjust square (R2) sebesar 0.767 hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas secara bersama-sama memberikan konstribusi atau sumbangan terhadap perubahan variabel terikat Y sebesar 76.7% dan sisanya sebesar 23.3% dipengaruhi oleh variabel lain dalam lingkup permasalahan SDM misalnya : kepemimpinan, karakteristik individu maupun pekerjaan, motivasi, kepuasan kerja, dan lain sebagainya, yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini




Baca Selengkapnya..

Sabtu, 13 Maret 2010

analisis faktor – faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan

Koperasi Pasar Tanjungsari adalah Koperasi yang sebagian besar anggotanya adalah pedagang pasar Tanjungsari, usaha yang dikelola antara lain Unit Simpan Pinjam, Unit Perkulakan sembako dan Unit Jasa-jasa. Keberhasilan suatu Koperasi sangat didukung oleh kinerja karyawan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, begitu juga halnya di Koperasi Pasar Tanjungsari yang mana faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan penting untuk kemajuan Koperasi.

Fenomena Kinerja Karyawan Koperasi Pasar Tanjungsari saat ini masih dihadapkan pada permasalahan terutama pada rendahnya kinerja karyawan dilihat dari pendapatan Unit Simpan Pinjam Koperasi Pasar Tanjungsari yang belum tercapai dan pelatihan atau pendidikan Koperasi yang pernah di ikuti oleh satu karyawan, sedangkan karyawan yang lainnya belum mengikuti pelatihan koperasi, sehingga perlu diteliti melalui metode studi kasus dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kinerja Koperasi.

Kinerja karyawan merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan. Pencapaian hasil kerja ditentukan oleh karyawan yang mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, artinya karyawan memiliki tenggungjawab, mampu melaksanakan pekerjaannya tepat waktu dan dapat mencapai target yang telah ditentukan Koperasi, adanya pengawasan dari pengurus, kondisi lingkungan yang kondusif akan mendukung kelancaran dalam melakukan pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menggunakan metode penyebaran kuisioner dengan 3 orang responden dan 3 orang informan mengenai kinerja karyawan di Koperasi Pasar Tanjungsari maka dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan baik.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan merupakan poin-poin yang harus diperhatikan untuk mencapai suatu bentuk kinerja yang baik, kinerja yang dimaksudkan adalah kemampuan seorang karyawan, motivasi karyawan dalam bekerja serta efektifitas dan efisiensi waktu. Faktor-faktor tersebut sangat memerlukan kerjasama antara elemen-elemen yang bersangkutan, dimana hal tersebut akan mempengaruhi pencapaian kinerja karyawan Koperasi.

Koperasi saat ini masih dihadapkan pada permasalahan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan terbatasnya sumber dana yang dimiliki dalam melaksanakan kegiatan usahanya, sehingga penerapan dan penguasaan masalah manajemen usahanya menjadi terbatas. Kondisi ini harus disikapi oleh semua pihak baik kalangan praktisi, akademisi maupun pemerintah dengan menjadikannya sebagai sebuah tantangan dan peluang untuk meningkatkan peran koperasi dimasa yang akan datang.
Koperasi merupakan salah satu bentuk organisasi ekonomi yang melaksanakan kegiatannya dengan menghasilkan produk dan jasa yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh anggotanya secara optimal. Anggota merupakan faktor utama yang harus diperhatikan, sebab eksistensi anggota berpengaruh pada kelangsungan hidup dan keberhasilan suatu koperasi. Dengan demikian, dalam perusahaan koperasi tidak hanya dipandang dari segi kemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dapat dinikmati oleh anggota, akan tetapi harus memuaskan bagi anggota. Pelayanan terhadap anggota merupakan hal yang terpenting dalam koperasi, mengingat sumber kekuatan koperasi ada pada anggota. Apabila koperasi dapat memberikan pelayanan yang memuaskan, maka akan mendorong anggota untuk dapat meningkatkan partisipasinya, yang pada akhirnya tujuan koperasi dapat tercapai.

Perkembangan usaha dan keberhasilan suatu organisasi sangat tergantung kepada produktif tidaknya manusia dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor manusia merupakan modal utama dan pertama yang harus diperhatikan. Bagaimanapun tersedianya kualitas teknologi dan ekonomi yang memadai tidak akan membuahkan hasil tanpa keterlibatan manusia didalamnya, karena hanya manusia yang dapat berhasil tidaknya suatu usaha yang dilakukan. Begitu pun dalam koperasi tidak terlepas dari manajemen dan kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya, dalam hal ini pengurus, karyawan dan anggota.

Dalam perjalanan roda usahanya menuju keberhasilan, diperlukan pelaksanaan kerja yang sistematis dan teratur. Oleh karena itu, koperasi dalam melaksanakan kegiatan usahanya memerlukan tenaga pelaksana , yaitu karyawan disamping para pengelolanya yang terdiri dari pengurus. Keterlibatan dengan usaha koperasi, karyawan merupakan media pendukung dalam kegiatan operasional sehari-hari sebagai suatu proses pencapaian keberhasilannya. Pelaksanaan kerja karyawan dipengaruhi oleh kemampuan pengurus secara profesional dalam mendayagunakan dan mengelola karyawan agar dapat bekerja secara produktif, sehingga menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan.
Sesuai dengan uraian di atas, tidak terlepas dari bagaimana mengatur dan membina secara efektif dan efisien guna meningkatkan produktivitas kerja. Produktivitas yang dimaksud adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki karyawan guna mewujudkan segenap potensinya untuk mewujudkan daya kreativitasnya. Dalam mendayagunakan karyawan ke arah yang diinginkan, pihak pemimpin dalam hal ini pengurus sangat perlu untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja karyawan, baik faktor dalam diri maupun dari lingkungan kerjanya.

Penerapan manajemen Sumber Daya Manusia di lingkungan organisasi koperasi dalam mendayagunakan karyawan secara profesional diharapkan dapat memaksimalkan upaya untuk mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Penerapan manajemen Sumber Daya Manusia merupakan suatu media yang menjembatani kebijakan antara pengurus dan karyawan sehingga dapat mengoptimalkan kinerjanya yang direalisasikan dalam bentuk pelayanan yang berkaitan dengan usaha yang dijalankan koperasi, dalam hal ini pengurus berperan sebagai pelaksana kegiatan koperasi sehari-hari dan menangani kinerja karyawan, agar dalam melaksanakan tugasnya karyawan mampu bekerja dengan sebaik-baiknya secara efektif dan efisien maka perlu diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan tersebut sehingga dari aktivitas karyawan akan dapat dicapai suatu tujuan yang diharapkan dan mencapai ukuran kuantitatif yang telah diproyeksikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan dipengaruhi tidak saja oleh faktor-faktor eksternal tapi juga oleh faktor internal yang berasal dari dalam diri karyawan tersebut, hal ini merupakan suatu bentuk mengendalikan kemampuan usaha yang menggerakkan jasmani dan jiwa seseorang untuk berbuat, bertingkah laku dan di dalam perbuatannya itu mempunyai tujuan untuk meningkatkan kinerjanya agar lebih terarah dalam mencapai hasil kerja sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan akan terealisasi dengan baik. Salah satu faktor yang mendorong seseorang unuk mencapai keberhasilan adalah faktor motivasi. Jika faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan dilaksanakan secara bertahap dalam jangka waktu tertentu maka akan membentuk suatu kebiasaan kerja yang pada gilirannya nanti akan memunculkan suatu paradigma dimana kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh faktor motivasi. Kinerja karyawan tidak akan muncul tanpa ada faktor-faktor yang melatar belakanginya, dengan demikian dampak selanjutnya tentu saja kinerja karyawan koperasi akan terasa lebih efektif. Oleh karena itu penting sekali mengambil tindakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan.

Pada dasarnya semua kegiatan usaha yang dilaksanakan oleh koperasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Adanya peningkatan kegiataan usaha yang ditangani, diharapkan pendapatan anggotanya meningkat. Maka dari itu sangat diharapkan partisipasi karyawan dalam meningkatkan pendapatan koperasi dengan melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang telah diberikan oleh koperasi.
Demikian halnya Koperasi Pasar Tanjungsari pada tahun 2006 memiliki anggota sebanyak 181 orang, karyawan sebanyak 4 orang dan pengurus sebanyak 3 orang. Dengan keterbatasan karyawan yang dimiliki oleh Koperasi Pasar Tanjungsari maka peranan dari faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan dianggap sangat penting dan diharapkan mampu berjalan secara berimbang. Pada dasarnya semua kegiatan usaha yang dilaksanakan oleh koperasi bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Adanya peningkatan kegiataan usaha yang ditangani, diharapkan pendapatan anggotanya meningkat. Maka dari itu sangat diharapkan partisipasi karyawan dalam meningkatkan pendapatan koperasi dengan melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang telah diberikan oleh koperasi. Sampai saat ini Koperasi Pasar Tanjungsari mempunyai empat jenis usaha, yang terdiri dari :

1.Unit Usaha Simpan Pinjam
2.Unit Usaha Perdagangan Umum (pengadaan barang sembako)
3.Unit Usaha Jasa Angkutan Barang
4.Menjalin Kemitraan Usaha antar Koperasi. Perorangan , BUMN, BUMS.
Dari ke-4 (empat) unit usaha yang ada, dalam kenyataannya KOPPAS Tanjungsari sekalipun sudah menginjak tahun ke lima hanya baru bisa menjalankan satu unit usaha yaitu unit Usaha Simpan Pinjam, sedangkan unit-unit usaha lainnya baru dalam tahap penyesuaian karena mengingat waktu yang relatif singkat dan masih memerlukan persiapan terutama dibidang manajerial dan dibidang ketenaga kerjaan (karyawan) disamping keterbatasan modal.
Adapun Rencana Pendapatan dan Belanja Koperasi Pasar Tanjungsari tahun 2006 dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 01. Rencana Pendapatan dan Belanja Koperasi Pasar Tanjungsari Tahun 2006

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pendapatan baru terealisasi sebesar 71,6% atau sebesar Rp. 44.255.634 sedangkan rencana pendapatan yang ditetapkan koperasi sebesar Rp. 61.770.000 dan rencana pendapatan yang belum terealisasi sebanyak 28,4%. Sedangkan untuk biaya dari rencana sebesar Rp. 55.070.000 terealisasi sebesar Rp. 41.124.834 atau 74.6%, dalam hal ini biaya dapat dikatakan lebih efisien.

Hal ini menuntut karyawan sebagai pelaksana kegiatan koperasi untuk meningkatkan kinerjanya, koperasi dalam seluruh kegiatannya didukung oleh kerjasama yang baik dari para pengelolanya serta adanya partisipasi aktif dari para karyawannya. Faktor tenaga kerja sangat besar peranannya di dalam mencapai tujuan organisasi, baik koperasi maupun perusahaan. Karyawan pada suatu organisasi koperasi/perusahaan diharapkan dapat melaksanakan tugasnya serta mampu berprestasi dalam bekerja sesuai dengan harapan koperasi, maka koperasi berkewajiban memberikan motivasi agar kepuasan kerja karyawan dapat tercapai. Untuk mendapatkan produktivitas kerja karyawan, koperasi menempuh cara dengan menaikan gaji/upah kerja karyawan, karena menurut sebagian karyawan gaji/upah kerja karyawan yang tinggi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan.

Karyawan Koperasi Pasar Tanjungsari bekerja dalam satu ruangan dengan pengurus, hal ini jelas akan mempengaruhi psikologis para karyawan dalam bekerja serta menimbulkan kesan bahwa pengawasan yang dilakukan pengurus terhadap karyawan terlalu diawasi, sehingga karyawan merasa kaku dan menimbulkan rasa kurang percaya diri pada diri karyawan dalam bekerja. Koperasi harus mampu merangsang gairah kerja karyawan dengan cara menciptakan situasi dan kondisi kerja yang harmonis, sehingga dapat menumbuhkan kepuasaan dihati karyawan yang nantinya berpengaruh pada prestasi kerja karyawan.

Berdasarkan fenomena yang terjadi di Koperasi Pasar Tanjungsari maka penelitian ini menitik beratkan pada “Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan”. Studi kasus pada Unit Usaha Simpan Pinjam Koperasi Pasar Tanjungsari.

Baca Selengkapnya..

Analisis Kepuasan Pelayanan Nasabah Terhadap Produk Tabungan Bank

Kinerja Bank Sul-Sel Syariah Cab. Utama Makassar menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, hal ini ditunjukkan oleh kinerja pelayanan bank dan produk-produk yang ditawarkan terhadap nasabah. Karena produk-produk yang ditawarkan Bank Sul-Sel Syariah Cab. Utama Makassar dapat meningkatkan usaha-usaha kecil. Sehingga para nasabah atau pelanggan dapat mandiri dalam berusaha serta dapat membantu kesejahteraan rakyat.

Bank Sul-Sel Syariah Cab. Utama Makassar dalam pelayanan terhadap nasabah telah menggunakan infrastruktur teknologi seperti telah terkoneksi secara online dan telah tersedia layanan ATM Bersama.
Dalam memenuhi kepuasan Bank Sul-Sel Syariah Cab. Utama Makassar harus mampu untuk mengembangkan kualitas Sumber Daya Manusia (Pegawai Bank), sehingga mampu membaca tantangan zaman.

Era globalisasi dan perdagangan bebas telah menyebabkan timbulnya persaingan yang ketat di dunia bisnis. Ketatnya persaingan bisnis tersebut menuntut pelaku bisnis untuk selalu meningkatkan daya saing agar mampu mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Ketatnya persaingan tidak hanya terjadi pada perusahaan yang menghasilkan barang, tetapi juga terjadi pada perusahaan yang menghasilkan jasa seperti Bank.
Perbankan di Indonesia mengalami perkembangan baru. Hal tersebut ditandai dengan kehadiran sistem perbankan berbasis Syari’ah yang berlandaskan berbagi hasil (profit sharing) yaitu dengan beroperasinya Bank Muamalat Indonesia tanggal 1 Mei 1992. Perkembangan sistem perbankan Syari’ah di Indonesia sebagai suatu lembaga keuangan memiliki potensi yang sangat besar, mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam.

Krisis ekonomi pada pertengahan 1997, ialah mempengaruhi kinerja dunia perbankan di Indonesia. Kegiatan-kegiatan usaha yang dibiayai oleh bank mengalami banyak kemacetan. Perbankan merupakan bisnis jasa yang tergolong dalam industri “kepercayaan” dan mempunyai rasio-rasio keuangan yang khas. Kepercayaan masyarakat terhadap bank semakin menurun sebagai akibat dari banyaknya bank-bank, terutama bank swasta yang diambil alih, dibekukan operasinya atau bahkan dikuidasi oleh pemerintah. Begitu juga dengan bank pemerintah, yang beberapa diantaranya harus di marger. Akan tetapi, selama periode krisis ekonomi tersebut, perbankan Syari’ah masih menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dibandingkan dengan lembaga perbankan konvensional.

Perbankan Syari’ah dalam peristilahan internasional dikenal sebagai Islamic Banking atau juga disebut dengan interest-free banking. Bank Syari’ah pada awalnya dikembangkan sebagai suatu respon dari kelompok ekonom dan praktisi perbankan Muslim yang berupaya mengakomodasi desakan dari berbagai pihak yang menginginkan agar tersedia jasa transaksi keuangan yang dilaksanakan sejalan dengan nilai moral dan prinsip-prinsip Syari’ah dalam Islam. Secara filosofis bank Syari’ah adalah bank yang aktivitasnya meninggalkan masalah riba. Dengan demikian, penghindaran bunga yang dianggap riba merupakan salah satu tantangan yang dihadapi dunia Islam dewasa ini. Oleh karena itu, maka mekanisme perbankan bebas bunga yang biasa disebut dengan bank Syari’ah didirikan. Perbankan Syari’ah didirikan didasarkan pada alasan filosofis maupun praktik. Secara filosofis, karena dilarangnya pengambilan riba dalam transaksi keuangan maupun non keuangan. Secara praktis, karena sistem perbankan berbasis bunga atau konvensional mengandung beberapa kelemahan sebagai berikut:

1.Transaksi berbasis bunga melanggar keadilan dan kewajaran bisnis.

2.Tidak fleksibel nya system transaksi berbasis bunga menyebabkan kebangkrutan.

3.Komitmen bank untuk menjaga keamanan uang deposan berikut bunganya membuat bank cemas untuk mengembalikan pokok dan bunganya.

4.Sistem transaksi berbasis bunga menghalangi munculnya inovasi oleh usaha kecil.

5.Dalam system bunga, bank tidak akan tertarik dalam kemitraan usaha kecuali bila ada jaminan kepastian pengembalian modal dan pendapatan bunga mereka.
Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kompetisi/pertarungan perebutan pelanggan antara Bank Syari’ah dan bank Konvensional dapat di lihat dalam beberapa hal:

1.Perbedaan Falsafah.
Dimana Bank Syari’ah tidak melaksanakan system bunga (larangan riba) dalam seluruh aktivitasnya sedangkan Bank Konvensional justru kebalikannya yaitu system bunga. Jadi, Bank Syari’ah dalam menghindari sitem bunga maka system yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil.

2.Dari konsep pengelolaan dana nasabah.
Dalam system Bank Syari’ah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun investasi. Cara titipan dan investasi berbeda dengan deposito pada Bank Konvensional dimana deposito merupakan upaya membungakan uang.

3.Bank Syari’ah diwajibkan menjadi pengelola zakat.
Yaitu dalam arti wajib bayar zakat, menghimpun, mengadministrasikan dan mendistribusikannya. Hal ini merupakan fungsi dan peran yang melekat pada Bank Syari’ah untuk memobilisasi dana-dana social (zakat, infak, dan Sedekah).

4.Dalam struktur organisasi Bank Syari’ah diharuskan adanya dewan pengawas syari’ah (DPS) yang bertugas mengawasi segala aktivitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah sedangkan pada system perbankan konvensional tidak ada lembaga yang sejenis.

Operasional perbankan Syari’ah di Indonesia didasarkan pada Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998. Pertimbangan perubahan Undang-Undang tersebut dilakukan untuk mengantisipasi tentang sistem keuangan yang semakin maju dan kompleks dan mempersiapkan infrastruktur memasuki era globalisasi. Jadi, adopsi perbankan Syari’ah dalam sistem perbankan nasional bukanlah semata-mata mengakomodasi kepentingan penduduk Indonesia yang kebetulan sebagian besar muslim. Namun lebih kepada adanya faktor keunggulan atau manfaat lebih dari perbankan Syari’ah dalam menjembatani ekonomi.

Perbankan Syari’ah cukup pesat sampai saat ini, hal ini dipicu UU No. 10 Tahun 1998 yang membuka peluang bagi bank-bank baru atau bank konvensional untuk beroperasi sepenuhnya secara Syari’ah atau dengan membuka cab. khusus Syari’ah. Adanya UU No. 10 Tahun 1998 ini dapat membawa kesegaran baru bagi dunia perbankan kita. Terutama bagi dunia perbankan Syari’ah di tanah air, berdirinya bank-bank baru yang bekerja berdasarkan prinsip Syari’ah akan menambah semarak lembaga keuangan Syari’ah yang telah ada.

Statistik Perbankan Syari’ah yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa sampai dengan bulan November tahun 2007 jumlah Bank Syari’ah mencapai 143 bank. Dari ke 143 bank tersebut, tiga diantaranya merupakan Bank Umum Syari’ah (BUS), dan 26 bank diantaranya merupakan Unit Usaha Syari’ah (UUS), serta 114 sisanya merupakan Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS). Terkait dengan kondisi saat ini, diperkirakan pertumbuhan bank umum Syari’ah, unit usaha bisnis Syari’ah meningkat. Artinya jumlah bank Syari’ah naik dari tahun ke tahun.

Meningkatnya jumlah dan pangsa pasar bank Syari’ah menunjukkan bukti meningkatnya apresiasi masyarakat dan kalangan perbankan terhadap perbankan Syari’ah saat ini. Perbankan ini menyebabkan terjadinya persaingan yang semakin ketat di dunia perbankan, dimana persaingan yang terjadi tidak hanya antar bank konvensional, tetapi juga dengan bank-bank Syari’ah. Perkembangan tersebut akan turut mendukung kemajuan bank Syari’ah di masa depan, karena pada dasarnya bank Syari’ah memiliki potensi untuk berkembang di Indonesia, antara lain karena didukung dengan jumlah penduduk beragama Islam yang paling banyak.

Bank Sulsel Syariah merupakan Unit Usaha Syariah dari PT. Bank Sulsel. Unit ini mulai beroperasi pada bulan April 2007 dengan modal awal Rp.8 Milyar, kini memiliki aset sebesar Rp.21.893 juta, dengan dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun sejumlah Rp.4.678 juta, dan penyaluran pembiayaan sebesar Rp.9.261 juta, laba yang dihasilkan berjumlah Rp.235 juta.

Pelaksanaan produk perbankan Islam dituangkan dalam bentuk akad. Semua akad harus diperiksa oleh DPS terlebih dahulu, agar tidak menyimpang dari ketentuan syariah. Apabila ada akad yang belum difatwakan, DPS harus meminta fatwa terlebih dahulu kepada DSN. Sebelum ada persetujuan dari DSN, akad tersebut belum dapat dikeluarkan. Oleh karena itu, harus ada batasan waktu bagi DSN untuk memutuskan produk tersebut sesuai atau tidak menurut syariah demi kelancaran dan perkembangan perbankan Islam yang pesat.

Suatu Bank dapat memuaskan nasabahnya, jika bank dapat memahami atribut-atribut apa yang sebenarnya diinginkan dan dibutuhkan nasabah. Dalam hal ini, dapat melakukan peningkatan kepuasan pelayanan terhadap semua nasabah Bank Sulsel Syari’ah serta perbaikan dan inovasi-inovasi terhadap produk tersebut. Dengan memperhatikan atribut yang diinginkan nasabah, maka kepuasannya akan terpenuhi. Keberhasilan bank dalam memberikan kepuasan pelayanan kepada nasabahnya akan membuat nasabah tersebut loyal kepada bank.

Walaupun Bank Sul-Sel Syari’ah Cab. Utama Makassar baru beroperasi di dunia perbankan, namun pelayanannya bisa menarik minat orang untuk menabung pada Bank Sul-Sel Syari’ah. Baik itu pelayanan dari segi fasilitas, kebersihan, maupun keramahtamahan pihak-pihak Bank Sul-Sel Syari’ah dalam memberikan informasi dan membantu nasabah ketika mengalami kesulitan. Dan yang paling penting adalah letak Bank Sul-Sel Syari’ah yang sangat strategis.

Pelayanan adalah kunci keberhasilan dalam berbagai usaha atau kegiatan yang bersifat jasa. Peranannya akan lebih besar dan bersifat menentukan manakala dalam kegiatan-kegiatan jasa di masyarakat terdapat kompetisi dalam usaha merebut pasaran atau pelanggan. Dengan adanya kompetisi seperti itu menimbulkan dampak positif dalam sebuah organisasi atau perusahaan, ialah mereka bersaiang dalam pelaksanaan layanan, melalui berbagai cara, tekhnik dan metode yang dapat, menarik lebih banyak orang menggunakan/memakai/jasa atau produk yang dihasilkan oleh organisasi atau perusahaan. Persaiangan yang ada dalam masyarakat usaha (bussines) tidak hanya pada segi mutu dan jumlah tetapi juga dalam hal layanan. Justru dalam hal terakhir inilah persaingan makin seru dengan pengenalan sistim layanan baru yang serba cepat dan memuaskan.

Perhatikan saja persaingan antar Bank yang terjadi sejak adanya deregulasi di bidang perbankan dan keuangan. Memperhatikan pelayanan yang semakin menonjol maka tidaklah heran apabila masalah layanan mendapat perhatian besar dan berulang-ulang kali dibicarakan, baik oleh masyarakat maupun manajemen itu sendiri baik secara khusus maupun dalam kaitan dengan pokok usaha atau kegiatan organisasi.

Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengetahui dan menganalisa tentang keberhasilan sebuah bank dalam hal ini Bank Syari’ah Sul-Sel Cab. Utama Makassar dalam memenuhi kepuasan pelayanan nasabahnya. Maka diperlukan suatu penelitian mengenai tingkat kepuasan pelayanan nasabahnya. Melalui penelitian ini, bank dapat memperoleh informasi mengenai atribut-atribut yang diinginkan oleh nasabah dan melihat kinerja dalam memenuhi atribut tersebut, sehingga nantinya dapat memberikan bahan masukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kepuasan pelayanan nasabahnya.

Baca Selengkapnya..

Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Lokasi, Pelayanan dan Prosedur Kredit terhadap Keputusan Nasabah Dalam Pengambilan Kredit

Peluang lembaga keuangan di kecamatan Banyumanik sangat besar. Hal tersebut terlihat dari jumlah UKM yang menempati jumlah mayoritas dari total unit usaha yang ada. Saat ini para pengusaha UMKM masih banyak yang kesulitan permodalan. Di sisi lain PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik seharusnya dapat memanfaatkan kondisi ini. Ternyata pertumbuhan kredit PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik selama bulan Mei Tahun 2007 – April 2008 sangat fluktuatif.

Variabel penelitian yang digunakan tingkat suku bunga (X1), lokasi (X2), pelayanan (X3) prosedur kredit (X4) dan keputusan nasabah dalam pengambilan kredit (Y). Penelitian ini menggunakan 100 sampel dengan menggunakan alat pengambilan data berupa angket. Metode analisis data meliputi analisis korelasi sederhana, analisis korelasi berganda, analisis regresi sederhana, analisis regresi berganda, koefisien determinasi dan pengujian hipotesis.

Dari analisis regresi dapat diketahui ada pengaruh positif signifikan antara variabel tingkat suku bunga (X1) terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit (Y) di mana dapat dilihat dari nilai koefisien regresi = 0,589 dan dibuktikan dengan uji hipotesis thitung (3,598) > ttabel (1,661). Juga ditemukan ada pengaruh positif signifikan antara variabel lokasi (X2) terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit (Y) di mana dapat dilihat nilai koefisien regresi = 0,388 dan dibuktikan dengan uji hipotesis thitung (3,979) > ttabel (1,661). Ditemukan pula ada pengaruh positif signifikan antara variabel pelayanan (X3) terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit (Y) di mana dapat dilihat dari nilai koefisien regresi = 0,837 dan dibuktikan dengan uji hipotesis thitung (5,519) > ttabel (1,661). Ditemukan pula ada pengaruh positif signifikan antara variabel prosedur kredit (X4) terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit (Y) di mana dapat dilihat dari nilai koefisien regresi = 1,088 dan dibuktikan dengan uji hipotesis thitung (14,631) > ttabel (1,661). Secara simultan variabel penilaian tentang tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan dan prosedur kredit terhadap keputusan nasabah dalam pengambilan kredit mempunyai pengaruh positif signifikan yang ditunjukkan dengan besarnya Fhitung (109,427) > Ftabel (2,469) dan tingkat signifikasi (0,000) < signifikasi ? (0,05).

Kata-kata kunci : tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan, prosedur kredit dan keputusan nasabah.

Di era globalisasi ini persaingan dalam bisnis perbankan sangat ketat. Persaingan tersebut tidak hanya terjadi antar bank, tetapi persaingan juga datang dari lembaga keuangan lain yang berhasil mengembangkan produk-produk keuangan baru. Persaingan dan perkembangan yang cukup pesat pada usaha perbankan tersebut menjadikan masing-masing lembaga perbankan harus berlomba untuk memenangkan persaingan bisnis.

Persaingan antar bank tersebut tentunya akan lebih menguntungkan nasabah karena nasabah dapat memilih berbagai jasa perbankan yang ditawarkan. Kualitas produk dan layanan perbankan akan menentukan apakah lembaga perbankan tersebut mampu bersaing di pasar global atau tidak. Syarat sederhana yang harus dipenuhi oleh lembaga perbankan tersebut adalah kemampuan perusahaan perbankan tersebut dalam menyediakan produk dan jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat. Manajemen sebuah bank dituntut kecepatan dan ketepatan dalam merespon apa yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Sebagai perusahaan jasa, perusahaan perbankan harus berorientasi pada kualitas pelayanan yang diberikan. Pelayanan yang diberikan harus mampu menciptakan kepuasan bagi para pelanggannya. Adapun manfaat dari kepuasan pelanggan tersebut adalah meningkatkan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan pelanggan, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang, dapat mendorong terciptanya loyalitas pelanggan dan memungkinkan terciptanya rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga semakin banyak orang membeli dan menggunakan produk perusahaan ( Fandy Tjiptono, 2004: 24 )

Persaingan bisnis di bidang perbankan yang nampak akhir-akhir ini adalah persaingan dalam penyaluran, khususnya dalam pembiayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Di Indonesia sendiri UMKM menempati jumlah mayoritas dari total unit usaha yang ada. Akan tetapi kebanyakan dari para pengusaha UMKM masih mengalami kesulitan dalam menjalankan usaha, dan secara garis besar kesulitan yang dihadapi berkisar masalah permodalan, persaingan pasar dan bahan baku yang sulit didapat. Permodalan nampaknya menjadi alasan yang klasik yang menghadang perkembangan UMKM. Kebanyakan pelaku bisnis memutar usahanya dengan mengandalkan usahanya dengan modal sendiri. Ada pula sebagian kecil yang berusaha menambah modalnya dengan melakukan pinjaman ke bank atau lembaga non bank.

Mengingat potensi yang cukup besar dari para pelaku UMKM tersebut maka PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik menyiasati dengan membuka simpan pinjam yang khusus untuk melayani segmen Usaha Kecil dan Menengah. Adapun pertumbuhan pertumbuhan kredit PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik selama bulan Mei Tahun 2007 – April 2008 disajikan dalam tabel 1.1 sebagai berikut :

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan kredit pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik sangat fluktuatif. Setiap bulannya pihak Bank seharusnya mengucurkan dananya kepada masyarakat sebesar Rp. 400.000.000,- akan tetapi pada bulan-bulan tertentu tidak dapat memenuhi target tersebut. Mengingat target dan tantangan bisnis di masa yang akan datang semakin meningkat, PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik harus berusaha memberikan pelayanan dan fasilitas yang menarik. Dalam usaha memahami keinginan masyarakat saat ini, dirasakan perlu untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi Keputusan nasabah dalam pengambilan kredit. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor tingkat suku bunga, lokasi, pelayanan dan prosedur kredit. Apabila masyarakat sebagai nasabah merasa puas dengan apa yang telah diberikan perusahaan mereka akan loyal terhadap perusahaan dan tidak menutup kemungkinan mereka akan mempengaruhi orang lain dalam mengambil fasilitas kredit yang disediakan oleh PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini mengambil judul “Pengaruh Tingkat Suku Bunga, Lokasi, Pelayanan dan Prosedur Kredit terhadap Keputusan Nasabah Dalam Pengambilan Kredit Pada PD BPR BKK Semarang Tengah Cabang Banyumanik “

Baca Selengkapnya..

Jumat, 12 Maret 2010

ANALISIS DAMPAK BAITUL MAL DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KAUM DHU’AFA

Baitul Mal merupakan Lembaga daerah yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat dan harta agama lainnya di Kabupaten Aceh Timur. Baitul Mal dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang diangkat dan bertanggung jawab kepada Gubernur atau Bupati untuk periode tertentu. Badan Baitul Mal adalah Lembaga daerah non struktural yang di dalam melaksanakan tugasnya bersifat independent. Badan Baitul Mal mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan zakat, pembinaan mustahiq dan muzakki serta pemberdayaan harta agama sesuai ketentuan Syariat Islam.

Penelitian yang dilakukan ini dengan tujuan diantaranya yaitu untuk melihat pengaruh Baitul Mal dalam meningkatkan kesejahteraan kaum dhu’afa dan untuk mengetahui jumlah kaum dhu’afa yang dibantu oleh Baitul Mal Kabupaten Aceh Timur dalam penyaluran dana ZIS tersebut.

Untuk memperoleh data yang diperlukan pada penelitian ini, maka penulis mengunakan 2 (dua) cara pengumpulan data yaitu penelitian lapangan yang merupakan cara untuk mendapatkan data yang bersifat primer yang penulis lakukan dengan kunjungan secara langsung pada objek penulisan. Penulisan lapangan ini dilakukan dengan cara: wawancara dan observasi, serta penelitian kepustakaan yaitu merupakan cara untuk memperoleh data yang penulis lakukan dengan membaca buku–buku dari perpustakaan UNSAM Langsa serta bacaan lainnya yang berhubungan dengan penelitian ini
Dalam mengolah data penulis menganalisis dengan bantuan formula regresi linier berganda dengan rumus :
Y = a + bx1 + bx2 + c

Dan Dari hasil penelitian didapat bahwa koefisien korelasi (R) sebesar 0,988 ini berarti keeratan hubungan antara variabel terikat yaitu kesejahteraan kaum dhu’afa (Y) dengan variabel bebas (zakat, dan bukan zakat) adalah tinggi atau kuat dan positif karena hampir mendekati +1. Sedangkan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,977 atau 97,70% yang mengartikan bahwa 97,70% kesejahteraan kaum dhu’afa dipengaruhi oleh faktor zakat dan bukan zakat, sedangkan sisanya sebesar 2,30% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dianalisis dalam penelitian ini. Faktor lain tersebut seperti keprofesionalan Baitul Mal dalam mengelola dana ZIS, penyaluran dana yang bukan bentuk uang (seperti ternak, becak motor dll).

Zakat adalah salah satu rukun Islam yang merupakan ibadah kepada Allah sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dalam wujud mengkhususkan sejumlah harta atau nilainya milik perorangan atau badan hukum untuk diberikan kepada yang berhak dengan syarat–syarat tertentu untuk mensucikan dan memperhatikan harta serta jiwa pribadi para wajib zakat, mengurangi penderitaan masyarakat memelihara keamanan serta meningkatkan pembangunan. Bahwa penunaian zakat merupakan kewajiban Umat Islam yang mampu dan hasil pengumpulan zakat merupakan sumber dana bagi upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan masyarakat yang kurang mampu (kaum dhu’afa).

Zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) memerlukan penataan dan pembenahan secara profesional yang sampai saat ini belum terkelola dengan baik. Apabila dana ZIS tersebut dapat berjalan dan dikelola dengan baik secara profesional dengan manajemen yang baik pula, maka dana ZIS akan mampu dan dapat menopang pembangunan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat pada umumnya kaum dhu’afa pada khususnya.
Untuk dapat memfungsikan zakat sebagai sarana pembersih jiwa dan harta serta meningkatkan kesejahteraan kaum dhu’afa, perlu adanya pengelolaan zakat secara bertanggung jawab dan profesional oleh Baitul Mal di bawah pembinaan dan pengawasan Pemerintah. Tujuan pengelolaan zakat adalah meningkatkan kesadaran untuk membayar zakat, meningkatkan kesejahteraan umat dan keadilan sosial serta meningkat daya guna dan hasil guna zakat dan harta agama lainnya.

Sejalan dengan kondisi diatas angka kemiskinan yang semakin hari semakin meningkat dan merupakan permasalahan yang harus dipecahkan oleh Baitul Mal dalam menuntaskan kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan kaum dhu’afa. Baitul Mal merupakan Lembaga daerah yang berwenang melakukan tugas pengelolaan zakat dan harta agama lainnya di Kabupaten Aceh Timur. Baitul Mal dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang diangkat dan bertanggung jawab kepada Gubernur atau Bupati untuk periode tertentu. Badan Baitul Mal adalah Lembaga daerah non struktural yang di dalam melaksanakan tugasnya bersifat independent. Badan Baitul Mal mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan zakat, pembinaan mustahiq dan muzakki serta pemberdayaan harta agama sesuai ketentuan Syariat Islam.

Baitul Mal mempunyai fungsi yaitu: Pengumpulan Zakat, Penyaluran Zakat, Pendataan Mustahiq, Penelitian Tentang Harta Agama, Pemanfaatan Harta Agama, Peningkatan Kualitas Harta Agama, Pemberdayaan Harta Agama sesuai dengan Hukum Syari’at Islam.
Pendataan masyarakat yang dapat menerima zakat produktif serta pembinaannya sesuai dengan jenis usaha yang ditekuni oleh masyarakat secara profesional. Kepada muzakki yang aktif membayar zakat dan penerima zakat produktif yang kontinu berinfaq akan diberi penghargaan yang sesuai.

Sejak tahun 1988 telah telah dibentuk BAZIS Dati II Kabupaten Aceh Timur dengan surat keputusan Bupati Kepala Daerah TK. II Aceh Timur Nomor: 260/SK/451.12/1988 tanggal 15 Desember 1988 sampai tahun 2000. Sejalan dengan Undang–undang Republik Indonesia Nomor: 581 Tahun 1999 tentang Pelaksanaan Undang–undang Nomor: 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat (pasal 5 ayat 1) tentang Badan Amil Zakat Daerah Kabupaten/Kota.

Keputusan Menteri Agama RI Nomor: 581 Tahun 1999, tentang Pelaksanaan Undang–undang pengelola zakat, maka untuk terlaksananya pengurusan Pemasukan dan Penyaluran ZIS dalam Kabupaten Aceh Timur, Bupati Aceh Timur dengan Keputusan Daerah Tk. II Aceh Timur Nomor: 260/SK/451.12/1988 Tanggal 15 Desember 1988 tentang Susunan Personalia majelis Pertimbangan, Pengurus Harian dan pengawas BAZIS tingkat Kabupaten Daerah Tk. II Aceh Timur dan telah membentuk kembali Badan Amil zakat, infaq dan shadaqah (BAZIS) Kabupaten Aceh Timur Periode 2000-2003.

Dan keputusan Bupati Aceh Timur Nomor: 827 Tahun 2004 Tanggal 6 November 2004/12 Ramadhan 1425 H tentang Pembentukan Badan Badan Baitul Mal Kabupaten Aceh Timur Periode: 2004-2009. Qanum Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor: 7 Tahun 2004 tentang pengelola zakat dan Instruksi Bupati Aceh Timur Nomor: 451. 12/4871/2005. Tanggal 30 Mei 2005 M/23 Rabiul Akhir 1426 H tentang Pelaksanaan Zakat Gaji/Jasa setiap Pegawai/Karyawan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

Instruksi Bupati Aceh Timur Tanggal 30 Mei 2005 bagi PNS yang mempunyai Gaji Kotor Perbulan Rp.1.300.000,- keatas dikenakan Zakat 2,5 % dan bagi PNS yang gaji kotor per bulan dibawah Rp.1.300.000,- dikenakan biaya infaq yaitu untuk Golongan III dikenakan Rp.10.000,- Golongan II Rp.5.000,- dan Golongan I Rp.3.000,-.
Adapun pemasukan dan penyaluran dana ZIS pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 yaitu dapat dilihat pada Tabel I-1 yaitu sebagai berikut.

Baca Selengkapnya..

PENGARUH INTERNAL BRANDING TERHADAP SIKAP KARYAWAN MENGENAI BRAND PERUSAHAAN PADA BANK

Semakin kuat brand suatu perusahaan akan semakin besar juga pengaruhnya terhadap keputusan membeli pelanggan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang gencar melakukan strategi branding terhadap produk dan jasanya. Berbagai macam media iklan digunakan untuk kesuksesan strategi branding mereka, mulai dari media cetak sampai media televise yang memakai dana besar.

Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti berdasarkan atas tujuan penelitiannya. Penelitian ini terdiri dari tiga tujuan. Tujuan penelitian pertama, yaitu untuk mengetahui pelaksanaan internal branding pada Bank Mandiri Cabang jl. Asia Afrika Bandung, menggunakan metode penelitian deskriptif. Tujuan penelitian kedua, yaitu untuk mengetahui bagaimana sikap karyawan terrhadap brand perusahaan, menggunakan metode penelitian deskriptif. Tujuan penelitian yang ketiga adalah untuk mengetahui sejauh mana pengaruh internal branding terhadap sikap karyawan mengenai brand perusahaan, menggunakan metode penelitian explanatory research.

Pada zaman yang serba cepat ini secara tidak sadar kita sudah dihantui oleh berbagai macam brand dari produk dan jasa perusahaan. Kita bisa rasakan dari mulai bangun tidur sampai tidur kembali, brand-brand dari berbagai perusahaan menghiasi hidup kita. Dimulai dari ketika kita akan menggosok gigi maka yang ada dalam benak pikiran kita adalah sikat gigi formula dan pasta gigi pepsodent. Brand gillete sangat banyak digunakan oleh pria untuk bercukur. Untuk kelancaran komunikasi handphone merek nokia selalu menjadi pilihan favorit banyak orang. Apabila kita ingin berlibur bersama keluarga, mobil Toyota kijang menjadi pilihan utama. Dan masih banyak brand-brand yang lain sehingga membuat kita merasa kurang nyaman jika tidak menggunakannya.

Semakin kuat brand suatu perusahaan akan semakin besar juga pengaruhnya terhadap keputusan membeli pelanggan. Oleh karena itu banyak perusahaan yang gencar melakukan strategi branding terhadap produk dan jasanya. Berbagai macam media iklan digunakan untuk kesuksesan strategi branding mereka, mulai dari media cetak sampai media televise yang memakai dana besar.

Sebagian perusahaan mengira kalau sudah beriklan di berbagai media maka merek(brand) perusahaan mereka akan cepat terkenal dan memiliki brand image yang bagus. Memang benar tapi tidak seratus persen benar karena beriklan di berbagai media bisa saja menjadi awal kebangkitan brand tersebut atau malah akan menjadi awal keterprukan brand tersebut. Kita ambil contoh sebuah hotel. Bayangkan ketika kita akan memulai sebuah perjalanan wisata dan kita menerima brosure untuk tempat menginap yang bagus dan mewah. Di dalam brosur ruangannya sangat mewah, lingkungannya rapid dan bersih. Gambar restorannya mewah dengan makanan yang lezat dan kita tertarik untuk mencobanya. Akan tetapi ketika kitatiba di hotel tersebut ternyata ruangannya pengap dan kotor, makanannya tidak enal dan pelayanan karyawannya tidak ramah dan jauh dari yang diiklankan. Ketika kita complain ke manajemen hotel, kita mendapatkan jawaban yang sangat berbeda. Apa yang terjadi? Kita akan sangat kecewa dan tidak akan kembali lagi ke hotel tersebut. Dan sudah pasti kita akan memberitahukan hal jelek diatas kepada orang lain. Kita bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada hotel tersebut.

Contoh lain dalam bisnis perbankan, ketika Bank X sudah beriklan di berbagai media yang mengatakan bahwa produk dan jasa mereka yang terbaik, pelayanan akan selalu memuaskan, cepat dan menyenangkan. Apa yang akan terjadi ketika seorang pelanggan datang ke bank tersebut karena iklan yang dia lihat dan dengar, tetapi mendapatkan muka masam dari customer service bank, pelayanan yang lambat dari pegawai bank, procedure yang ternyata dinilai pelanggan tidak sesuai dengan iklan serta produk bank yang ternyata biasa-biasa saja. Pelanggan tersebut akan sangat kecewa dan mungkin tidak akan pernah datang lagi ke bank tersebut dan sudah passti word of mouth yang negatif dari pelanggan ini akan menyebar ke pelanggan potensial lainnya. Brand image yang sudah susah payah di bangun oleh Bank tersebut akan hancur dalam sekejap hanya karena karyawan yang tidak merasa memiliki, membawa dan membuat brand perusahaan hidup.

Lain halnya dengan Disney, Disney didukung oleh sumber daya manusia yang dapat menghidupkan mereknya. Disney telah membangun infrastruktur karyawannya mulai dari rekrutmen, pelatihan, sampai kebijakan SDM secara spesifik untuk mendukung dan mempromosikan atribut dan pesan yang terkandung dalam merek Disney. Disney juga secara hati-hati mengawasi mereknya melalui tim ekuitas untuk memastikannya digunakan sebagaimana mestinya dan tidak over-exposed. Kewaspadaan ini mencakup layanan, perilaku, sampai pakaian karyawannya. Memastikan bahwa karyawannya mengerti dengan jelas apa arti dari mereknya dan bagaimana mereka harus bersikap dan berperilaku untuk mendukungnya. Memang, Disney tergolong sudah mapan dalam usianya yang sudah beberapa dekade sehingga tinggal menyesuaikan dengan karyawannya yang datang belakangan. Akibatnya brand Disney menjadi brand yang disukai di seluruh dunia.

Fakta lain dari Andrew Hitchcock, 19, mahasiswa Universitas Washington. Berdasarkan statistik dari Google Analytics, Hitchcock mencoba mendata pengunjung yang mengunjungi situsnya untuk melakukan searching. Hasilnya adalah 80% karyawan Microsoft berjelajah dengan menggunakan mesin cari Google dan hanya 20% yang melakukan pencarian lewat mesin cari Microsoft sendiri (baik MSN atau Live.com). Lebih menariknya lagi, 100% karyawan Google diklaimnya setia memakai mesin cari mereka sendiri. Sementara Yahoo, hanya 64% karyawannya yang memakai mesin cari
mereka sendiri (sisanya memakai Google). Sementara data dari VisitorVille Intelligence menunjukkan sebanyak 66,3% pengguna Microsoft berpaling ke Google untuk melakukan pencarian. Hanya 19,6% saja yang memakai MSN Microsoft dan 10,2% lagi ‘lari’ ke mesin cari Yahoo. Seperti yang kita ketahui, Microsoft dan Google adalah dua perusahaan yang selalu berperang dimana Google merupakan pesaing Microsoft dalam dunia bisnis maya.
Dengan data di atas, Hitchcock beranggapan bahwa karyawan Google dan Yahoo diklaim jauh lebih ’setia’ dengan mesin cari Google. Sebuah pemaparan yang menarik sekaligus tamparan bagi merek sebesar Microsoft. Data lain ditunjukkan oleh Philipp Lenssen yang menunjukkan hanya 68,9% karyawan Yahoo yang memakai mesin cari mereka sendiri, sementara 29,8% lainnya menggunakan Google. Tidak heran kalau perang di search engine dimenangkan oleh Google karena karyawan Yahoo sendiri tidak berniat menggunakan merek mereka. Inikah sebuah tanda hubungan antara kekuatan internal branding dan kinerja di pasar? Kalau sang karyawan tidak cinta dengan merek-nya sendiri dan termasuk menggunakannya, bagaimana bisa mengharapkan si pelanggan untuk menggunakannya?

Perusahaan yang berorientasi pada marketing sudah selayaknya mempertimbangkan aspek karyawan tersebut sebagai aset yang harus dikelola. Kenapa? Secara sederhana marketing company sebagai perusahaan penyedia barang dan jasa tentunya sangat berhubungan langsung dengan konsumen. Hubungan inilah yang seyogyanya dijaga dan dipelihara sebaik mungkin untuk membuat konsumen tidak berpaling kepada perusahaan lain dalam hal ini produk atau jasa yang ditawarkannya. Dan ini berhubungan langsung dengan sumber daya manusia diperusahaan. Mengelola sumber daya manusia ini sebagai salah satu langkah dalam internal branding perusahaan. Internal branding dimaksudkan sebagai langkah dalam mengelola mind karyawan terhadap merek produk atau jasa perusahaan. Dengan pengelolaan yang baik akan berdampak pada sense of belonging yang tinggi karyawan dengan perusahaan. Perusahaan yang baik menyadari itu sebagai aset yang harus dikelola guna meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan oleh The Wall Street Journal semakin hipotesa tersebut. Wall Street Journal menurunkan artikel tentang penelitian yang dilakukan oleh Harris Interactive yang sejalan dengan fenomena Google-Yahoo di atas. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah 84% mempercayai opini dari karyawan perusahaan dan 92% mengatakan pengalaman pribadi karyawan adalah cerita yang paling kredibel tentang image dan kinerja perusahaan. Dengan kata lain, semua kegiatan pengembangan merek yang dilakukan dengan berbagai program komunikasi akan menjadi sia-sia saat program external branding tersebut tidak dibarengi dengan program internal branding yang konsisten, jujur dan terpercaya. Internal branding yang gagal tentu saja akan menghasilkan karyawan yang menceritakan “brand reality” yang bisa saja berbeda dengan brand perception yang ada di benak pelanggan. Celakanya lagi, brand reality ini ternyata lebih kredibel, dipercaya dan dapat merusak brand image perusahaan dengan lebih cepat. Lalu, Apakah Anda akan mengorbankan brand credibility Anda dengan mengabaikan internal branding?

Berdasarkan beberapa fakta diatas maka saya mencoba untuk melihat pengaruh internal branding terhadap tingkat kepercayaan karyawan kepada brand perusahaan di Bank Niaga Bandung.

Baca Selengkapnya..

PENGARUH PENILAIAN PRESTASI KERJA KARYAWAN TERHADAP PROMOSI JABATAN PADA BANK

Dalam menghadapi arus globalisasi sumber daya manusia (sdm) memegang peranan yang sangat dominan dalam aktivitas atau kegiatan perusahaan. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu memikirkan bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sdm-nya agar dapat mendorong kemajuan baik bagi perusahaan maupun karyawan. Salah satu caranya adalah dengan promosi jabatan. Untuk memutuskan promosi yang akan diberikan pada karyawan, maka perusahaan harus memiliki suatu sistem balas jasa yang tepat. Mekanisme untuk dapat menentukan balas jasa yang pantas bagi suatu prestasi kerja adalah dengan penilaian prestasi kerja.

Berdasarkan hasil analisa diperoleh persamaan Y = 13,188 + 0,710X. artinya setiap ada perubahan variabel X (Penilaian prestasi kerja karyawan) sebesar 0,710 maka akan terjadi perubahan pada variabel Y (promosi jabatan) sebesar 13,188. Berdasarkan hasil analisa penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa nilai Rs sebesar 0,395, artinya hubungan antara penilaian prestasi kerja karyawan dan promosi jabatan positif dan cukup kuat. Nilai Kp sebesar 15,6% berarti kinerja karyawan hanya memberi kontribusi sebesar 15,6% terhadap promosi jabatan. Sisanya 84,4% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hal ini bisa dilihat dari hasil perhitungan nilai t hitung (Cr) sebesar 2,687 sedangkan t tabel sebesar 1,701, artinya Ho tidak ada hubungan antara penilaian prestasi kerja karyawan dengan promosi jabatan, ditolak dan Ha, ada hubungan antara penilaian prestasi kerja karyawan dengan promosi jabatan, diterima.

Dalam menghadapi arus globalisasi sumber daya manusia (sdm) memegang peranan yang sangat dominan dalam aktivitas atau kegiatan perusahaan. Berhasil atau tidaknya perusahaan dalam mencapai tujuan yang ditetapkan sebelumnya sangat tergantung pada kemampuan sumber daya manusianya (karyawan) dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, setiap perusahaan perlu memikirkan bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan sumber daya manusianya agar dapat mendorong kemajuan bagi perusahaan dan bagaimana caranya agar karyawan tersebut memiliki produktivitas yang tinggi, yang tentunya pimpinan perusahaan perlu memotivasi karyawannya. Salah satu caranya adalah dengan target promosi.

Promosi merupakan kesempatan untuk berkembang dan maju yang dapat mendorong karyawan untuk lebih baik atau lebih bersemangat dalam melakukan suatu pekerjaan dalam lingkungan organisasi atau perusahaan.
Dengan adanya target promosi, pasti karyawan akan merasa dihargai, diperhatikan, dibutuhkan dan diakui kemampuan kerjanya oleh manajemen perusahaan sehingga mereka akan menghasilkan keluaran (output) yang tinggi serta akan mempertinggi loyalitas (kesetiaan) pada perusahaan. Oleh karena itu, pimpinan harus menyadari pentingnya promosi dalam peningkatan produktivitas yang harus dipertimbangkan secara objektif. Jika pimpinan telah menyadari dan mempertimbangkan, maka perusahaan akan terhindar dari masalah-masalah yang menghambat peningkatan keluaran dan dapat merugikan perusahaan seperti: ketidakpuasan karyawan, Adanya keluhan, tidak adanya semangat kerja, menurunnya disiplin kerja, tingkat absensi yang tinggi atau bahkan masalah-masalah pemogokan kerja.

Untuk dapat memutuskan imbalan yang sepenuhnya diberikan kepada seorang karyawan atas hasil kerjanya, maka perusahaan harus memiliki sesuatu sistem balas jasa yang tepat. Mekanisme untuk dapat menentukan balas jasa yang pantas bagi suatu prestasi kerja adalah dengan penilaian prestasi kerja.
Melalui penilaian prestasi kerja akan diketahui seberapa baik Ia telah melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya, sehingga perusahaan dapat menetapkan balas jasa yang sepantasnya atas prestasi kerja tersebut.

Penilaian prestasi kerja juga dapat digunakan perusahaan untuk mengetahui kekurangan dan potensi seorang karyawan. Dari hasil tersebut, perusahaan dapat mengembangkan suatu perencanaan sumber daya manusia secara menyeluruh dalam menghadapi masa depan perusahaan. Perencanaan sumber daya manusia secara menyeluruh tersebut berupa jalur-jalur karir atau promosi-promosi jabatan para karyawannya.

Akan tetapi tidak semua karyawan suatu perusahaan dapat dipromosikan. Prinsip “The right man in the right place” harus dipenuhi agar perusahaan dapat berjalan dengan efisien dan efektif. Mengingat pentingnya pengaruh penilaian prestasi kerja ini dalam keputusan mengenai promosi karyawan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai: “Pengaruh Penilaian Prestasi Kerja Karyawan Terhadap Promosi Jabatan pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.”

Baca Selengkapnya..

Kamis, 11 Maret 2010

PENGARUH BUDAYA KAIZEN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA KOPERASI

Koesmono (2006 : 1) menyebutkan bahwa salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Melimpahnya sumber daya manusia yang ada saat ini mengharuskan berfikir secara seksama yaitu bagaimana dapat memanfaatkan sumber daya manusia secara optimal.

Handoko (2000 : 10) menyatakan, Agar di masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan pekerjaan yang memadai. Kelemahan dalam penyediaan berbagai fasilitas tersebut akan menyebabkan keresahan sosial yang akan berdampak kepada keamanan masyarakat. Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya. Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah maupun pusat, artinya dari produktivitas regional maupun nasional, dapat menunjang perekonomian baik secara makro maupun mikro.

Baca Selengkapnya..

PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PADA BANK ASING

Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Dari definisi tersebut memberikan tekanan bahwa bank dalam melakukan usahanya terutama menghimpun dana dalam bentuk simpanan yang merupakan sumber dana bank dan menyalurkan dana dalam bentuk kredit kepada masyarakat. Sehubungan dengan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana, bank sering pula disebut sebagai lembaga kepercayaan.

Terpeliharanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank selain tergantung pada keahlian pengelolaannya, juga tergantung pada integritas mereka.
Dunia perbankan mempunyai peran penting dalam mewujudkan perekonomian suatu negara, terutama dalam memperlancar transaksi perdagangan baik nasional maupun internasional. Bahkan kehidupan dari dunia perbankan bila dikaitkan dengan kemajuan suatu negara adalah sangat relevan, terutama bila dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan produk dan jasa-jasa bank.

Dalam menghadapi situasi yang sangat ketat saat ini maka setiap bank perlu meningkatkan kinerja keuangannya dari waktu ke waktu. Karena hanya bank yang memiliki kinerja yang baik yang akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menyimpan dan menempatkan sumber dana dari masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kondisi bank-bank yang berpusat di Eropa pada ratio-ratio tersebut masih lebih rendah dibandingkan bank-bank yang berpusat di Amerika, sehingga sebaiknya pihak manajemen bank-bank yang berpusat di Eropa melakukan upaya untuk meningkatkan kinerja keuangannya terutama pada Cash Ratio, APB dan CAR.

Bank merupakan badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Dari definisi tersebut memberikan tekanan bahwa bank dalam melakukan usahanya terutama menghimpun dana dalam bentuk simpanan yang merupakan sumber dana bank dan menyalurkan dana dalam bentuk kredit kepada masyarakat. Sehubungan dengan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana, bank sering pula disebut sebagai lembaga kepercayaan.

Terpeliharanya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank selain tergantung pada keahlian pengelolaannya, juga tergantung pada integritas mereka.
Dunia perbankan mempunyai peran penting dalam mewujudkan perekonomian suatu negara, terutama dalam memperlancar transaksi perdagangan baik nasional maupun internasional. Bahkan kehidupan dari dunia perbankan bila dikaitkan dengan kemajuan suatu negara adalah sangat relevan, terutama bila dilihat dari keterlibatan masyarakat dalam memanfaatkan produk dan jasa-jasa bank.

Dalam menghadapi situasi yang sangat ketat saat ini maka setiap bank perlu meningkatkan kinerja keuangannya dari waktu ke waktu. Karena hanya bank yang memiliki kinerja yang baik yang akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk menyimpan dan menempatkan sumber dana dari masyarakat.

Untuk mengukur kinerja keuangan perbankan adalah digunakan rasio-rasio keuangan. Beberapa faktor yang perlu mendapat penilaian ketentuan tersebut meliputi likuiditas (kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo), profitabilitas (kemampuan memperoleh laba), efisiensi (kemampuan dalam melakukan efisiensi), kualitas aktiva dan solvabilitas (kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi).

Pada dasarnya kinerja keuangan merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menilai sifat-sifat kegiatan operasional bank dengan cara mengembangkan ukuran-ukuran kinerja bank yang telah ditentukan. Faktor penting yang digunakan dalam pengembangan usaha dan menampung resiko kerugian adalah faktor permodalan, faktor ini dapat dihitung dengan menggunakan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR), Primary Ratio (PR). Faktor Kualitas Aktiva Produktif digunakan untuk mengukur tingkat pengelolaan aktiva produktif yang bermasalah dan pembentukan cadangan khusus untuk menampung kerugian akibat menurunnya Kualitas Aktiva Produktif. Faktor ini dapat dihitung dengan menggunakan rasio Aktiva Produktif Bermasalah (APB) dan rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk (PPAP).

Untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba secara keseluruhan dan tingkat efisiensi usaha, baik dari kegiatan operasional maupun non operasional digunakan faktor Rentabilitas, faktor ini dapat dihitung dengan menggunakan dua rasio yaitu Return On Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Sedangkan faktor Likuiditas adalah faktor yang mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo, Faktor ini dapat dihitung dengan menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) dan rasio Cash Ratio (CR).

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa setiap bank harus berupaya untuk meningkatkan kinerja keuangan dan sekaligus mencari tahu bagaimana kinerja saat ini jika dibandingkan dengan bank lain yang satu level. Hal ini yang harus dilakukan juga oleh bank-bank asing.
Bank Asing merupakan bank – bank yang dimiliki oleh pihak asing dimana seluruh saham – sahamnya dimiliki oleh warga Negara asing dan atau badan – badan hukum yang peserta dan pimpinannya terdiri atas warga asing. Bank ini didirikan berdasarkan SK Menteri Keuangan No. 034/MK/IV/2 1968 tanggal 20 Februari 1968. Bank – bank milik swasta asing ini dapat terdiri dari Bank Umum Asing, Bank Pembangunan Asing, dan juga Bank Tabungan Asing. Namun yang kini beroperasi di Indonesia adalah Bank umum asing. Dimana kegiatan operasional Bank Asing kebanyakan sebagai lembaga pembiayaan (kredit) dan terlepas pada kegiatan operasional bank pada umumnya. Dalam operasi pemberian pinjamannya Bank Indonesia menetapkan batas maksimum pemberian kredit oleh bank devisa, pembatasan atas jumlah penerimaan dana dari luar negeri diatur oleh Bank Indonesia untuk setiap bank individual. Dan bank khusus bagi kantor cabang bank asing.

Untuk mengetahui bagaimana kinerja dan perbandingan kinerja diantara bank-bank asing asing yang ada di Indonesia perlu dilakukan penelitian. Oleh karena itu peniliti mengangkat topik : “PERBANDINGAN KINERJA KEUANGAN PADA BANK ASING “ sebagai topik penelitian ini.

Baca Selengkapnya..

ANALISIS SITUASI PERSAINGAN DAN STRATEGI PEMASARAN PADA PD. BPR BKK DI PURWOKERTO

Lembaga keuangan perbankan memiliki fungsi yang esensial dalam perekonomian suatu negara. Fungsi tersebut adalah fungsi intermediasi keuangan. Bank sebagai perantara dalam penghimpunan dana masyarakat dan menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk pinjaman / kredit.

Menurut Undang-Undang RI. No. 10 tahun 1998 bank dibedakan menjadi dua kategori yaitu bank umum dan bank perkreditan Rakyat ( BPR). Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedang BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya kegiatan BPR lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan bank umum. Dalam penghimpunan dana BPR hanya diperbolehkan menghimpun dana masyarakat berupa simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito, dan dilarang membuka simpanan giro, ikut kliring dan transaksi valuta asing.

Lembaga keuangan perbankan memiliki fungsi yang esensial dalam perekonomian suatu negara. Fungsi tersebut adalah fungsi intermediasi keuangan. Bank sebagai perantara dalam penghimpunan dana masyarakat dan menyalurkan dana ke masyarakat dalam bentuk pinjaman / kredit.

Menurut Undang-Undang RI. No. 10 tahun 1998 bank dibedakan menjadi dua kategori yaitu bank umum dan bank perkreditan Rakyat ( BPR). Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvesional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Sedang BPR adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Artinya kegiatan BPR lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan bank umum. Dalam penghimpunan dana BPR hanya diperbolehkan menghimpun dana masyarakat berupa simpanan dalam bentuk tabungan dan deposito, dan dilarang membuka simpanan giro, ikut kliring dan transaksi valuta asing.

Dalam kegiatan penyaluran dana / pembiayaan, BPR lebih diarahkan pada pasar sasaran usaha mikro dan usaha kecil dan menengah (UKM). Sementara bank umum juga mempunyai peluang yang sama untuk memasarkan ke dalam segmen tersebut. Sebagaimana dalam UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia ditegaskan bahwa peran BI dalam pengembangan UKM dari sisi pembiayaan melalui kredit likuiditas dihapuskan dan terbatas pada bantuan dalam hal teknis untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan perbankan mengenai UKM melalui penyediaan informasi perbankan, pelatihan dan penelitian-penelitian. Peran pembiayaan UKM berpindah kepada bank umum, BPR dan lembaga keuangan lainnya.

Dari sisi perbankan , UKM dipandang sebagai sektor yang menguntungkan untuk dibiayai, terbukti dari semakin meningkatnya pertumbuhan kredit UKM. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan Daerah yang diterbitkan BI Jawa Tengah, tahun 2003, dalam periode Juni 2002 sampai dengan Mei 2003, kredit usaha kecil (KUK) yang dianggap bisa mewakili UKM di kabupaten Banyumas secara umum tumbuh sebesar 22,61 persen . Ada beberapa faktor penyebab. Pertama, tingkat kemacetan relatif kecil. Kedua, mendorong terjadinya penyebaran resiko , jumlah pinjaman degan nilai nominal kecil memungkinkan bank memperbanyak nasabah, sehingga dana tidak terkonsentrasi pada satu kelompok sektor usaha. Ketiga, suku bunga pada tingkat bunga pasar bukan merupakan masalah pokok bagi UKM, tetapi tersedianya dana pada saat, jumlah dan sasaran yang tepat serta prosedur yang sederhana lebih penting dari subsidi bunga.

Keadaan demikian merupakan daya tarik lembaga perbankan dan lembaga informal untuk memasarkan produk pembiayaan pada sektor UKM. Hal ini sekaligus merupakan persaing langsung bagi BPR karena UKM merupakan pasar sasaran utamanya. Keberhasilan bank umum, BPR dan lembaga informal akan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang bagi UKM merupakan penghambat dalam akses kredit. Menurut hasil penelitian Bank Indonesia Purwokerto ( 2002) menyebutkan ada 9 faktor penghambat UKM dalam mengakses kredit. Faktor-faktor tersebut meliputi informasi layanan lembaga keuangan, prosedur pengambilan kredit, syarat yang diminta, jaminan yang diminta, proses permohonan sampai persetujuan, proses persetujuan sampai pencairan, biaya akses kredit, tingkat bunga dan frekuensi pendampingan.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, saat ini BPR secara umum lebih memiliki keunggulan dalam pelayanan terhadap UKM dibandingkan dengan bank umum, kelemahannya pada tingkat bunga dan frekwensi pendampingan yang menurut persepsi UKM masih dianggap sebagai faktor penghambat akses kredit.

Semakin berkembangnya dunia usaha perbankan maka masalah perencanaan strategi bisnis sangat dibutuhkan, tidak hanya pada bank besar tetapi juga bank menengah dan bahkan perusahaan kecil. BPR akan mengahadapi situasi persaingan yang semakin ketat dan dimensinya semakin luas. Selain itu dari segi jumlah maupun kemampuan, dimensi persaingan juga semakin meluas sebagai konsekuensi dari globalisasi dan perkembangan teknologi. Menurut Hermawan Kartajaya ( 1998), perubahan situasi persaingan dipengaruhi oleh tiga kekuatan, yaitu Customer (pelanggan), Competitor ( pesaing ), dan Change ( perubahan ).

Analisis terhadap situasi persaingan akan membantu menejemen untuk memutuskan dimana akan bersaing dan bagaimana menentukan strategi pemasaran yang tepat untuk menghadapi pesaingnya pada setiap pasar sasaran.
Perusahaan Daerah BPR BKK adalah lembaga keuangan milik pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten / kota, hal ini didasarkan pada pemilikan saham /modal mayoritas oleh pemerintah daerah yaitu sebesar 50 persen pemerintah propinsi , 42.5 persen pemerintah kabupaten / kota dan 7,5 persen dimiliki oleh Bank Pembangunan Daerah ( BPD ) ( Petunjuk Pelaksanaan Perda Prop. Jateng No. 20 tahun 2002). Dalam menjalankan fungsi dan peranannya akan menghadapi pesaing yang ada di kabupaten Banyumas baik bank umum, BPR lain,dan lembaga keuangan non bank.

Untuk itu diperlukan kajian terhadap situasi persaingan yang akan dihadapi Perusahaan Daerah BPR BKK Purwokerto degan menganalisis secara obyektif faktor –faktor yang mempengaruhi situasi persaingan baik sikap dan perilaku konsumen, pesaing dan faktor perubahan. Selanjutnya menentukan posisi pemasaran dalam persaingan melalui penentuan strategi pemasaran yang sesuai dengan persaingan yang dihadapi.

Berdasarkan hal tersebut diatas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Analisis Situasi Persaingan dan Strategi Pemasaran Pada Perusahaan Daerah BPR BKK Purwokerto ”.

Baca Selengkapnya..